Portofolio KE-1 

Teori dan Strategi Pembelajaran Vokasi



Dosen Pengampu :Prof. Dr. Muchlas, M.T


Portolio ke-1

 Penyusun: Fika Sari Fibri Hastuti(2308049038)

Mata Kuliah: Strategi Pembelajaran Vokasi

Pokok Bahasan: Karakteristik Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (Vokasi)

Melalui kuliah ini saya memperoleh pengetahuan dan ketrampilan tentang:

Taksonomi BLOOM

Taksonomi Bloom merupakan kerangka kerja yang mengelompokkan tujuan pembelajaran ke dalam tingkatan berpikir yang semakin kompleks. Pengetahuan tentang Taksonomi Bloom ini penting untuk diterapkan dalam pembelajaran vokasi di SMK, khususnya untuk mengembangkan ketiga capaian pembelajaran utama SMK: sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Klasifikasi Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom yang pertama kali dikembangkan oleh Benjamin Bloom pada tahun 1956, awalnya terdiri dari tiga domain:

1.      Kognitif (Cognitive Domain): Berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual, seperti pengetahuan dan keterampilan berpikir.

2.      Afektif (Affective Domain): Berfokus pada pengembangan sikap, nilai, dan minat siswa.

3.      Psikomotorik (Psychomotor Domain): Berfokus pada pengembangan keterampilan motorik siswa.

(sumber : Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom )

Bloom dalam (Arifudin, 2020) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yaitu: 1) Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual, 2) Ranah afektif, berkenaan dengan sikap, dan 3Ranah psikomotorik, berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak.

Pada sesi Diskusi :

1.      Pertanyaan dalam konteks taksonomi bloom, yang membagi aspek capaian pembelajaran menjadi 3 yakni kognitif, afektif dan psikomotorik, seberapa besar porsi masing-masing aspek dalam penyelenggaraan SMK?

Menurut saya :

Capaian aspek pembelajaran kognitif, afektif dan psikomotorik porsinya tergantung pada kompetensi keahlian ,kurikulumdan metode pembelajaran. pada kognitif lebih dari psikomotorik dan afektif. Pada kognitif berfokus pada kemampuan berpikir kritis dan menyelesaiakn masalah . untuk afektif berfokus pada sikap minat siswa, sedangkan psikomotorik berfokus ketrampilan. untuk di SMK sendiri lebih banyak pada ketrampilan

Proporsi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam penyelenggaraan SMK tidak memiliki persentase baku dan dapat bervariasi tergantung pada jurusan ,kurikulum serta tujuannya.
Pada SMK saya terdapat Jurusan yang berfokus pada keterampilan teknis (Teknik Mesin(Pemesinan), Otomotif(TKRO dan TBSM)) akan lebih menekankan aspek psikomotorik (60-70%) dan kognitif (30-40%). Aspek afektif (10-20%) tetap penting untuk membangun karakter dan profesionalisme siswa.Sedangkan pada Jurusan RPL(Rekayasa Perangkat Lunak) Kognitif: (40-50)%, Afektif: (10-20)%, Psikomotorik: (40-50)%

Siswa yang memiliki teori yang bagus, tetapi tidak memiliki keterampilan yang baik, tidak akan dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Siswa yang memiliki keterampilan yang bagus, tetapi tidak memiliki komunikasi yang baik, tidak akan dapat menjelaskan problem kerusakan kendaraan kepada pelanggan dengan baik.

 

 

menurut saya Proporsi pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotorik di SMK memang tidak terpaku pada angka pasti dan dapat bervariasi tergantung pada beberapa faktor yang ada. Dan ketiga aspek pembelajaran ini saling terkait dan saling melengkapi. Pembelajaran kognitif memberikan landasan pengetahuan yang penting untuk pembelajaran psikomotorik. Pembelajaran afektif membantu siswa untuk mengembangkan karakter dan moral yang baik, sehingga mereka dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka secara bertanggung jawab.

 

2.      Model penyelenggaraan PTK seperti apa yang cocok untuk Indonesia?

 

Menurut saya :

Model penyelenggaraan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PTK) di Indonesia saat ini masih memiliki beberapa kekurangan, seperti kurangnya relevansi dengan kebutuhan industri, kurangnya praktik dan pelatihan, dan kurangnya fokus pada pengembangan karakter. Oleh karena itu, perlu dicari model penyelenggaraan PTK yang lebih cocok dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia.

Model PTK yg cocok di Indonesia, harus sesuai dengan industri contohnya seperti : harus memiliki ketrampilan yang dibutuhkan oleh Industri
untuk peningkatan kualitas pembelajaran : PTK harus menyediakan pembelajaran yang berkualitas dan bermutu
Model PTK juga harus diperhatikan tentang kondisi ekonomi, infrastruktur dan kebutuhan masyarakat

 

Mengkutip tulisan dari Pak Yoga pada Diskusi :

Menurut saya menggunakan sistem “GANDA” Model ini menggabungkan pembelajaran di sekolah dengan praktik kerja di industri. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) bentuk penyelenggaraan pendidikan di SMK dan pelatihan di Industri yang dilakukan secara sistematik untuk mencapai profil kompetensi yang baku dan laku dipasar tenaga kerja. Hal ini diperkuat penelitian oleh (Aaltje D. Ch. Wayong, 2010) Dosen Fakultas Teknik UNIMA disampaikan pada APTEKINDO (Asosiasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Indonesia) sistem PSG bertujuan untuk; menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian professional, meningkatkan dan memperkokoh link and match antara lembaga pendidikan-pelatihan kejuruan dan dunia kerja, meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualitas profesional, dan memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan. Model GANDA terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan dan kompetensi siswa, serta mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja.
Sumber: https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/APTEKINDO/article/view/76

 

Betul, Prakerin merupakan salah satu bentuk PSG yang bermanfaat bagi siswa, sekolah, dan industri.

·         Akan tetapi Implementasi PSG masih menghadapi beberapa tantangan, seperti:

·         Kurangnya kerjasama yang erat antara sekolah dan industry

·         Kurangnya biaya

·         Kurangnya perubahan kurikulum dan infrastruktur

Meskipun terdapat beberapa tantangan, namun tantangan tersebut dapat diatasi dengan kerjasama yang erat antara semua pihak.

Akan tetapi perlu dilakukan kajian dan diskusi lebih lanjut untuk menentukan program PSG yang paling tepat untuk SMK. Seperti kebutuhan industri, kapasitas SMK(kurikulum,fasilitas dll),karakter siswa, Dengan mempertimbangkan semua faktor dan melibatkan berbagai pihak, diharapkan program PSG dapat menghasilkan lulusan SMK yang kompeten dan siap kerja.

 

 Referensi :

1.      Materi Kuliah : Prof. Dr. Muchlas, M.T

2.       Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom

3.       https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/APTEKINDO/article/view/76

4.      https://elearning.uad.ac.id/mod/wiki/view.php?wid=46&title=Tugas+Penulisan+Portofolio+Pribadi&groupanduser=0-42069

 

.

 

 

Comments