Tugas Penulisan Portofolio ke - 2

 

Tugas Penulisan Portofolio ke - 2

Penyusun Fika Sari Fibri Hastuti (2308049038)

Mata Kuliah: Teori dan Strategi Pembelajaran Pendidikan Teknologi dan Kejuruan 

Pokok Bahasan: 

  1. Peta Jalan Pendidikan Vokasi 2023-2030
  2. Pengangguran di RI Terbanyak Lulusan SMK
  3. 10 Langkah Revitalisasi SMK
  4. Bonus Demografi dan Visi Indonesi Emas 2045
  5. Perpres Nomor 68 Tahun 2022 Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi


Melalui kuliah ini saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang:

1.      Peta Jalan Pendidikan Vokasi 2023-2030

Pendidikan vokasi di Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti tingginya angka pengangguran lulusan SMK, kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, dan infrastruktur pendidikan yang belum memadai. Pengangguran terbuka lulusan pendidikan vokasi di Indonesia masih tinggi. Penyumbang terbanyak justru dari lulusan sekolah menengah kejuruan. Karena itu, tetap dibutuhkan pelatihan bagi lulusan sekolah vokasi agar mudah memasuki pasar kerja. Berdasarkan olahan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2022, jumlah penganggur terbuka lulusan vokasi tahun 2022 sebesar 1,8 juta orang atau 22 persen dari total penganggur. Jumlah terbanyak disumbang lulusan SMK jika dibandingkan lulusan diploma satu (D-1), diploma dua (D-2), dan diploma tiga (D-3).


Sumber : kemendikbud

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kemendikbudristek meluncurkan Peta Jalan Pendidikan Vokasi 2023-2030 sebagai panduan strategis dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Indonesia.

Peta Jalan Pendidikan Vokasi 2023-2030 merupakan sebuah panduan strategis yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek untuk mengantarkan pendidikan vokasi Indonesia ke tingkat yang lebih unggul dan berdaya saing global. Diluncurkan pada tahun 2022, peta jalan ini menggariskan visi, misi, strategi, dan target yang terukur untuk mencapai tujuan tersebut dalam rentang waktu delapan tahun.

Visi yang ingin dicapai adalah terwujudnya pendidikan vokasi yang link and match dengan kebutuhan industri dan dunia kerja, menghasilkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan berdaya saing global. Untuk mewujudkannya, peta jalan ini fokus pada lima strategi utama:

1. Revitalisasi kurikulum: Memperbarui kurikulum pendidikan vokasi agar sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri terkini. 2. Peningkatan kualitas guru: Memberikan pelatihan dan pengembangan profesi berkelanjutan bagi guru vokasi untuk meningkatkan kompetensi dan pedagogi mereka. 3. Penguatan kerjasama dengan industri: Membangun kemitraan strategis dengan industri dan dunia kerja untuk menghadirkan program magang, pemagangan, dan penyelarasan kurikulum. 4. Peningkatan infrastruktur: Membangun dan meningkatkan infrastruktur dan sarana prasarana pendidikan vokasi agar memadai dan menunjang proses belajar mengajar yang optimal. 5. Perluasan akses dan partisipasi: Meningkatkan akses dan partisipasi masyarakat dalam pendidikan vokasi melalui program beasiswa dan afirmasi.

Peta Jalan Pendidikan Vokasi 2023-2030 diharapkan dapat menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sekolah, industri, dan masyarakat, dalam bekerja sama untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pendidikan vokasi di Indonesia.

Peta jalan pendidikan vokasi di Indonesia bukanlah dokumen khusus untuk SMK, melainkan mencakup keseluruhan program pendidikan vokasi. Namun, SMK sebagai salah satu institusi utama pendidikan vokasi tentu sangat dipengaruhi oleh peta jalan tersebut.

Berdasarkan informasi terbaru (2023), peta jalan pendidikan vokasi Indonesia berfokus pada jangka waktu 2023-2030. Berikut beberapa poin penting yang tercantum di dalamnya:


Harapan dan Manfaat Revitalisasi SMK:

·         Meningkatkan Keterserapan Lulusan SMK: Lulusan memiliki keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

·         Meningkatkan Daya Saing Lulusan SMK: Lulusan memiliki daya saing yang tinggi di pasar kerja.

·         Meningkatkan Relevansi Pendidikan dengan Kebutuhan Industri: Pendidikan di SMK relevan dengan kebutuhan industri sehingga lulusannya dapat langsung bekerja.

 

Revitalisasi SMK sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan SMK di pasar kerja. Upaya revitalisasi ini perlu dilakukan dengan kerjasama antara pemerintah, sekolah, DUDI, dan masyarakat.

 

2.     
Pengangguran di RI Terbanyak Lulusan SMK

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2023, ironisnya, pengangguran di Indonesia didominasi oleh lulusan SMK dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) 9,60%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA (7,69%) dan Perguruan Tinggi (5,52%). Situasi ini menjadi sebuah ironi di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan vokasi (https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2023/03/01/1951/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-februari-2023-sebesar-5-47-persen--inflasi-tertinggi-terjadi-di-kotabaru-sebesar-7-88-persen-.html).

Sumber: BPS Banten


Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab tingginya TPT di kalangan lulusan SMK antara lain:

·         Ketidaksesuaian keahlian dengan kebutuhan industri: Banyak lulusan SMK yang tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh industri. Hal ini disebabkan oleh kurikulum SMK yang kurang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja (https://m.youtube.com/watch?v=b2RFPECWbHM).

·         Kesadaran yang rendah tentang SMK: Masih banyak masyarakat yang menganggap SMK sebagai pilihan kedua setelah SMA. Hal ini menyebabkan banyak siswa berprestasi memilih SMA daripada SMK (https://www.youtube.com/watch?v=sXvp5wbXQNs).

·         Kurangnya pelatihan dan magang: Banyak lulusan SMK yang belum memiliki pengalaman kerja yang memadai. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kesempatan pelatihan dan magang yang disediakan oleh sekolah dan industri (https://www.kompasiana.com/kompasiana/658eb3fbc57afb0d9c2b2ea2/cek-kilas-balik-perjalananmu-berkompasiana-di-tahun-2023).

Langkah-langkah strategis untuk mengatasi permasalahan ini, seperti:

Pemerintah:

Ø  Mereview dan memperbarui kurikulum SMK agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.

Ø  Meningkatkan kerjasama dengan industri dalam pengembangan kurikulum, penyediaan sarana prasarana, dan penempatan kerja lulusan SMK.

Ø  Memberikan pelatihan dan magang bagi lulusan SMK untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman kerja mereka.

Ø  Mempromosikan pendidikan vokasi kepada masyarakat agar meningkatkan minat dan kesadaran tentang SMK.

Sekolah:

Ø  Menyesuaikan kurikulum SMK dengan kebutuhan industri di daerah setempat.

Ø  Meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan metode yang lebih kreatif dan inovatif.

Ø  Memperkuat kerjasama dengan industri dalam penyelenggaraan program magang dan pemagangan.

Ø  Memberikan pembekalan kepada lulusan SMK tentang soft skills yang dibutuhkan di dunia kerja.

Industri:

Ø  Berpartisipasi aktif dalam pengembangan kurikulum SMK agar sesuai dengan kebutuhan industri.

Ø  Memberikan kesempatan magang dan pemagangan bagi siswa SMK untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman kerja mereka.

Ø  Menyediakan lapangan kerja bagi lulusan SMK yang memiliki keahlian yang dibutuhkan.

 

Dengan kerjasama yang erat antara pemerintah, sekolah, dan industri, diharapkan kualitas pendidikan vokasi dapat meningkat dan lulusan SMK dapat memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh industri. Hal ini akan membantu dalam menurunkan tingkat pengangguran di kalangan lulusan SMK dan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

Selain langkah-langkah di atas, beberapa solusi lain yang dapat dipertimbangkan:

Ø  Mengembangkan program entrepreneurship untuk membekali lulusan SMK dengan keterampilan berwirausaha.

Ø  Mendirikan lembaga sertifikasi untuk memastikan lulusan SMK memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar industri.

Ø  Memberikan insentif kepada industri yang mempekerjakan lulusan SMK.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, diharapkan permasalahan pengangguran di kalangan lulusan SMK dapat diatasi dan mereka dapat memiliki peluang yang lebih baik untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Penanganan pengangguran di kalangan lulusan SMK memerlukan upaya bersama dari pemerintah, sekolah, dan industri. Dengan meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan memberikan kesempatan kerja yang memadai, diharapkan TPT di kalangan lulusan SMK dapat diminimalisir.

3.      Sepuluh( 10)Langkah Revitalisasi SMK



Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbudristek pada tahun 2017 merumuskan 10 langkah revitalisasi SMK untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Indonesia.

10 langkah tersebut adalah:

Ø  Penguatan Tata Kelola SMK: Menerapkan tata kelola yang baik dan akuntabel, meningkatkan peran Komite Sekolah, dan memperkuat hubungan dengan industri.

Ø  Pengembangan Kurikulum SMK: Mengembangkan kurikulum adaptif dan relevan dengan kebutuhan industri, memperkuat pembelajaran berbasis kompetensi, dan meningkatkan porsi Praktek Kerja Lapangan (PKL).

Ø  Peningkatan Kualitas Guru SMK: Meningkatkan kualifikasi dan kompetensi guru, memberikan pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan, dan mendorong guru mengikuti perkembangan teknologi dan industri.

Ø  Penguatan Sarana dan Prasarana SMK: Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran, memperbarui peralatan dan teknologi, dan membangun bengkel dan laboratorium sesuai standar industri.

Ø  Pengembangan Kemitraan dengan Industri: Membangun kerjasama erat dengan industri dalam penyusunan kurikulum, PKL, dan penempatan kerja, mendorong partisipasi industri dalam pengembangan SMK, dan menyelenggarakan program pelatihan bersama.

Ø  Peningkatan Mutu Lulusan SMK: Meningkatkan standar kompetensi lulusan, memperkuat program pembekalan soft skills, dan melaksanakan asesmen dan sertifikasi kompetensi.

Ø  Peningkatan Daya Saing SMK: Mempromosikan SMK kepada masyarakat, menjalin kerjasama dengan lembaga internasional, dan mengikuti perkembangan teknologi dan industri global.

Ø  Penguatan Budaya SMK: Menumbuhkan budaya disiplin, etos kerja, dan karakter kuat pada siswa, membangun budaya inovasi dan kewirausahaan, dan menciptakan lingkungan belajar kondusif.

Ø  Peningkatan Pendanaan SMK: Meningkatkan anggaran pendidikan untuk SMK, mencari sumber pendanaan alternatif dari pihak swasta, dan mengelola dana secara efektif dan efisien.

Ø  Monitoring dan Evaluasi: Melakukan monitoring dan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan revitalisasi SMK, dan memperbaiki serta menyempurnakan program berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi.

Revitalisasi SMK diharapkan menghasilkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap kerja.

4. Bonus Demografi dan Visi Indonesi Emas 2045

Indonesia sedang berada di ambang pintu kesempatan emas. Hal ini berkat bonus demografi, yaitu kondisi dimana penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia non-produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), perkiraan pada tahun 2022, sekitar 69,3% dari total populasi Indonesia berada di usia produktif, yaitu sekitar 190,83 juta jiwa. Bonus demografi ini diproyeksikan mencapai puncaknya pada tahun 2030.
( Badan Pusat Statistik (BPS): https://www.bps.go.id/)

Visi Indonesia Emas 2045 dicetuskan sebagai tujuan jangka panjang untuk menjadikan Indonesia negara maju pada tahun 2045, tepat 100 tahun setelah kemerdekaan. Bonus demografi berperan penting dalam pencapaian visi tersebut. Angkatan kerja yang besar dan berkualitas berpotensi menjadi penggerak ekonomi dan pembangunan nasional.

Visi Indonesia Emas 2045 adalah cita-cita bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju, berdaulat, dan berkelanjutan pada tahun 2045. Visi ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2020-2045. (sumber : Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020: http://repository.unika.ac.id/13294/5/12.60.0248%20Christina%20Thiveny%20Putri)

Bonus demografi, di mana proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibandingkan dengan proporsi penduduk usia non-produktif, berperan penting dalam pencapaian Visi Indonesia Emas 2045. Angkatan kerja yang besar dan berkualitas berpotensi menjadi penggerak ekonomi dan pembangunan nasional.

Manfaat Bonus Demografi:

Ø  Peningkatan pertumbuhan ekonomi: Tenaga kerja yang melimpah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan partisipasi angkatan kerja.

Ø  Peningkatan pendapatan nasional: Peningkatan produktivitas dan partisipasi angkatan kerja dapat meningkatkan pendapatan nasional dan taraf hidup masyarakat.

Ø  Peningkatan daya beli: Peningkatan pendapatan nasional dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan sektor konsumsi.

Ø  Pengembangan industri: Bonus demografi dapat mendorong pengembangan industri padat karya yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

Ø  Pemerataan pembangunan: Bonus demografi dapat dimanfaatkan untuk pemerataan pembangunan ekonomi dan sosial di seluruh wilayah Indonesia.

(Sumber : https://money.kompas.com/read/2023/07/10/103212026/bonus-demografi-indonesia-2045?page=all )



Namun, bonus demografi ini bisa menjadi pedang bermata dua. Jika tidak dikelola dengan baik, bonus demografi justru bisa menjadi beban. Berikut adalah beberapa tantangan dan peluang yang terkait dengan bonus demografi:

Tantangan:

ü  Penyediaan lapangan kerja: Melonjaknya jumlah angkatan kerja harus diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang layak. Pemerintah perlu mendorong pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi yang kondusif.

ü  Peningkatan kualitas SDM: Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) perlu ditingkatkan agar angkatan kerja memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh industri. Pendidikan dan pelatihan vokasi memegang peranan penting.

ü  Pemerataan pembangunan: Bonus demografi harus dimanfaatkan untuk pemerataan pembangunan antar wilayah. Jangan sampai bonus demografi hanya dinikmati oleh daerah tertentu saja.

Peluang:

·         Pertumbuhan ekonomi: Angkatan kerja yang besar berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang pesat. Produktivitas dan daya saing nasional dapat meningkat.

·         Inovasi dan kreativitas: Bonus demografi dapat memicu inovasi dan kreativitas. Generasi muda yang melek teknologi berpotensi melahirkan terobosan baru.

·    Peningkatan kesejahteraan: Dengan pengelolaan yang baik, bonus demografi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas. Standar hidup dan kualitas hidup masyarakat bisa meningkat.

Untuk memaksimalkan peluang dan mengatasi tantangan bonus demografi, diperlukan kerja sama yang solid antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:

Ø  Investasi pada pendidikan dan pelatihan: Meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi agar lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja.

Ø  Pengembangan infrastruktur: Membangun infrastruktur yang memadai untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.

Ø  Dorongan kewirausahaan: Mendorong semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda untuk menciptakan lapangan kerja baru.

Reformasi ketenagakerjaan: Mendorong reformasi ketenagakerjaan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia.

1.      5.  Perpres Nomor 68 Tahun 2022 Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi

 Tujuan:

Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi (Perpres 68/2022) bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi di Indonesia. Perpres ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dan dunia kerja.(sumber: Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022: https://peraturan.bpk.go.id/Details/207855/perpres-no-68-tahun-2022 )

Ruang Lingkup:

Perpres 68/2022 mengatur tentang:

Ø  Penyelenggaraan pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi

Ø  Penguatan kelembagaan penyelenggara pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi

Ø  Pengembangan kurikulum pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi

Ø  Peningkatan kualitas dan sertifikasi kompetensi lulusan pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi

Ø  Pendanaan pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi

Ø  Kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri

Inovasi dan Terobosan:

Perpres 68/2022 memuat beberapa inovasi dan terobosan, antara lain:

·         Link and match: Pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi dirancang untuk 80% praktik dan 20% teori, dengan kurikulum yang disusun bersama dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

·         Dualitas sistem: Pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi dapat diselenggarakan oleh lembaga pendidikan vokasi dan lembaga pelatihan vokasi.

·         Recognition of Prior Learning (RPL): Pengakuan terhadap pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman kerja yang diperoleh seseorang sebagai bagian dari pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi.

·         Program pemagangan: Lulusan pendidikan vokasi dan pelatihan vokasi diwajibkan mengikuti program pemagangan di DUDI.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menambahkan, peningkatan infrastruktur dan SDM menjadi dua pilar penting menuju Indonesia emas 2045.

”Pendidikan berperan penting menyiapkan SDM unggul. Karena itu, transformasi pendidikan vokasi lewat kebijakan Merdeka Belajar dilakukan menyeluruh, berkesinambungan, terintegrasi, dan terkoordinasi guna mengakselerasi mutu lulusan pendidikan vokasi. Tujuannya menghasilkan SDM kompeten dan dibutuhkan pasar serta mampu berwirausaha,” ujar Nadiem.

Kunci kemajuan pendidikan vokasi juga tidak lepas dari partisispasi industri. Karena itu, pendidikan vokasi kini dioperasikan dan diajar dengan berorientasi kebutuhan industri. Bahkan, pendidikan vokasi diperkuat simulasi DUDI dengan menghadirkan teaching factory.


Sumber: https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/02/21/revitalisasi-pendidikan-dan-pelatihan-vokasi-berorientasi-industri

 

Nadiem mengakui ada keluhan dari kesiapan lulusan dunia pendidikan, termasuk vokasi, untuk bekerja sesuai standar DUDI. Karena itu, makin terbuka ruang bagi DUDI terlibat mendukung kemajuan pendidikan vokasi di SMK dan perguruan tinggi vokasi. Tidak hanya dari peraturan dan program pemerintah, tapi juga dukungan anggaran.

Sebagai contoh, ada SMK Pusat Keunggulan berkolaborasi dengan DUDI. Demikian juga Kampus Merdeka vokasi yang memberi kesempatan bagi mahasiswa vokasi belajar satu semester di luar kampus lewat magang atau pembelajaran berbasis proyek, dengan biaya saku ditanggung Kemendikbudristek.

Para praktisi DUDI makin disambut untuk mengajar di sekolah atau kampus. Bahkan, ada dukungan dana padanan atau matching fund riset dan pengembangan DUDI berkolaborasi dengan pendidikan vokasi. Dana riset industri bisa makin besar untuk menghasilkan inovasi teknologi demi meningkatkan produktivitas industri.

Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah memaparkan, revitalisasi pendidikan dan pelatihan voaksi ini penting karena mutu angkatan kerja Indonesia 54,31 persen berpendidikan rendah dan tingkat produktivitas di bawah rata-rata. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka tinggi, terutama di kalangan anak muda.

Oleh karena itu, kebutuhan akan SDM kompeten perlu dipetakan. ”Prinsip dasar revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi berorientasi kebutuhan DUDI dan tanggung jawab bersama. Perpres ini memiliki semangat kolaboratif dan gotong royong dari pemerintah pusat dan daerah, industri, serta masyarakat untuk memajukan pendidikan dan pelatihan vokasi,” ujarnya.

Revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia sangatlah penting karena beberapa alasan berikut:

1. Kualitas Angkatan Kerja:

a)      Mayoritas berpendidikan rendah: Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan bahwa 54,31% angkatan kerja Indonesia berpendidikan SMP ke bawah.( Sumber : Badan Pusat Statistik: https://www.bps.go.id/)

b)      Tingkat produktivitas rendah: Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.

 

 

2. Pengangguran Terbuka:

a)      Tingkat pengangguran tinggi: BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2023 sebesar 5,83%.

b)      Pengangguran muda: Pengangguran terbanyak terjadi pada kelompok usia muda, yaitu 15-24 tahun.

Sumber : Badan Pusat Statistik: https://www.bps.go.id/

 

Revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi diharapkan dapat:

a)      Meningkatkan kualitas angkatan kerja: Lulusan pendidikan vokasi diharapkan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

b)  Meningkatkan produktivitas: Tenaga kerja yang terampil dan kompeten dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa.

c)      Mengurangi pengangguran: Lulusan pendidikan vokasi diharapkan dapat terserap ke dunia kerja dan mengurangi pengangguran.

Revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi membutuhkan kerjasama dari semua pihak, termasuk pemerintah, DUDI, dan masyarakat. Dengan kerjasama yang baik, diharapkan pendidikan vokasi di Indonesia dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja, sehingga dapat meningkatkan daya saing bangsa.

 

Referensi :

https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2023/03/01/1951/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-februari-2023-sebesar-5-47-persen--inflasi-tertinggi-terjadi-di-kotabaru-sebesar-7-88-persen-.html

https://m.youtube.com/watch?v=b2RFPECWbHM

https://www.youtube.com/watch?v=sXvp5wbXQNs

https://www.kompasiana.com/kompasiana/658eb3fbc57afb0d9c2b2ea2/cek-kilas-balik-perjalananmu-berkompasiana-di-tahun-2023

Strategi Implementasi Revitalisasi SMK: https://psbsekolah.kemdikbud.go.id/kamaya/index.php?p=show_detail&id=386900

10 LANGKAH REVITALISASI SMK: https://psbsekolah.kemdikbud.go.id/kamaya/index.php?p=show_detail&id=386900


Comments

Popular posts from this blog