STUDI KOMPARASI PTK INDONESIA

DAN LUAR NEGERI

 

Penyusun: Fika Sari Fibri Hastuti (2308049038)

 

Mata Kuliah: Teori dan Strategi Pembelajaran Pendidikan Teknologi dan Kejuruan 

Pokok Bahasan: Studi Komparasi PTK Indonesia dan LN

1.             Perkembangan Konsep dan Implementasi Pendidikan Vokasi dan Sistem Sertifikasi di Inggris

2.             Transferable Skills

3.             Bimbingan Karier dan Informasi Lapangan Kerja

4.             Konsep dan Implementasi Public Private Partnership pada Pendidikan Vokasi

5.             Integrasi TIK Dalam Pendidikan Vokasi Inggris 

6.             Green-TVET dan High-Order Thinking (HOT) Skills



Melalui kuliah ini saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang:

1.  Perkembangan Konsep dan Implementasi Pendidikan Vokasi dan Sistem Sertifikasi di Inggris:

Perkembangan Konsep dan Implementasi Pendidikan Vokasi dan Sistem Sertifikasi di Inggris:

Sejarah Panjang Pendidikan Vokasi:

Inggris memiliki sejarah panjang dalam pendidikan vokasi yang dimulai sejak abad ke-19. Pada masa itu, pendidikan vokasi difokuskan pada pengembangan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu, seperti manufaktur dan perdagangan.

Sistem Sertifikasi:

Seiring perkembangan zaman, sistem sertifikasi di Inggris pun berkembang untuk memastikan bahwa lulusan PTK memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh industri. Saat ini, terdapat beberapa badan sertifikasi di Inggris, seperti Ofqual dan QCA, yang bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mengeluarkan sertifikat bagi lulusan PTK.

Jenis Program Pendidikan Vokasi:

Terdapat berbagai macam program pendidikan vokasi di Inggris, mulai dari program pasca-sekolah menengah hingga program gelar sarjana. Beberapa contoh program pendidikan vokasi di Inggris antara lain:

·         Apprenticeships: Program pelatihan kerja yang menggabungkan pembelajaran di kelas dan praktik kerja di industri.

·         Further Education (FE) Colleges: Menyediakan program pendidikan vokasi pasca-sekolah menengah, seperti National Vocational Qualifications (NVQ) dan Higher National Diplomas (HND).

·         Universities: Beberapa universitas di Inggris menawarkan program gelar sarjana dalam bidang vokasi, seperti teknik, bisnis, dan kesehatan.

Karakteristik Pendidikan Vokasi di Inggris:

·         Fokus pada Keterampilan Praktis: Pendidikan vokasi di Inggris menekankan pada pengembangan keterampilan praktis yang dibutuhkan untuk pekerjaan tertentu.

·         Kerjasama dengan Industri: Industri memainkan peran penting dalam pengembangan dan implementasi program pendidikan vokasi di Inggris.

·         Sistem Sertifikasi yang Ketat: Sistem sertifikasi di Inggris memastikan bahwa lulusan PTK memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh industri.

 

2. Transferable Skills:

Transferable skills adalah keterampilan yang dapat diterapkan di berbagai pekerjaan dan industri.

Keterampilan ini sangat penting bagi lulusan PTK karena mereka membantu mereka beradaptasi dengan perubahan di dunia kerja.

Beberapa contoh transferable skills termasuk komunikasi, kerja tim, dan pemecahan masalah.

Transferable skills adalah sekelompok keterampilan yang dapat diterapkan di berbagai pekerjaan dan industri, menjadikannya bekal penting bagi para lulusan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan (PTK) di tengah dunia kerja yang kian dinamis. Keterampilan ini membantu mereka beradaptasi dengan perubahan dan membuka peluang di berbagai bidang.

Beberapa contoh transferable skills yang esensial bagi lulusan PTK antara lain:

·         Komunikasi: Kemampuan untuk menyampaikan informasi dan ide secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis, merupakan landasan penting dalam interaksi dan kolaborasi di berbagai pekerjaan.

·         Kerja tim: Kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, saling menghargai, dan berkontribusi secara konstruktif dalam tim sangat dibutuhkan dalam berbagai proyek dan situasi kerja.

·         Pemecahan masalah: Kemampuan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah secara efektif dan logis menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja.

Selain itu, transferable skills lain seperti kemampuan belajar mandiri, digitalisasi, berpikir kritis, kreatif, dan beradaptasi juga semakin penting di era digital dan globalisasi. Lulusan PTK yang mampu menguasai transferable skills ini akan memiliki nilai lebih dan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dan tuntutan dunia kerja.

Transferable skills adalah kemampuan yang telah kamu pelajari sepanjang hidup yang nantinya akan berguna dalam pekerjaan. Kemampuan ini bisa dikatakan cukup relevan untuk berbagai profesi dan tempat kerja. Kemampuan ini dapat dikembangkan dan di bawa saat kamu melalui jalur karier yang baru. 

Meskipun seringkali tidak tertera dalam deskripsi kualifikasi pekerjaan, namun memiliki keterampilan ini merupakan hal yang wajib karena mampu mendukung kesuksesan karier dalam hidup. Dengan memiliki kemampuan tersebut, kamu akan terbiasa dengan perubahan yang terjadi dan mampu beradaptasi dengan cepat. (sumber : https://ppmschool.ac.id/transferable-skills/ )

 

Transferable skills merupakan senjata utama bagi para lulusan PTK untuk beradaptasi dan berkembang di dunia kerja yang dinamis. Dengan memfokuskan pengembangan transferable skills dalam pendidikan dan pelatihan, para lulusan PTK akan siap menghadapi berbagai peluang dan tantangan di masa depan.

3. Bimbingan Karier dan Informasi Lapangan Kerja:

Bimbingan karier adalah suatu bentuk atau proses pelayanan bantuan terhadap individu atau seseorang dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, seperti gambaran tentang dunia kerja, pemilihan jabatan, kemampuan dan pengembangan pekerjaan, dan norma-norma yang berlaku di lingkungan pekerjaan. Bimbingan karier diberikan agar seseorang mampu menentukan dan mengambil keputusan dalam memasukkan lapangan pekerjaan secara tepat dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil sehingga mampu mewujudkan diri secara bermakna. (sumber : https://www.kajianpustaka.com/2022/05/blog-post_18.html )

Pengertian Bimbingan Karier:

Menurut Walgito (2010), bimbingan karier adalah bantuan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, pemilihan lapangan pekerjaan atau jabatan (profesi) tertentu serta membekali diri agar siap memangku jabatan tersebut dan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki.

Menurut Hartono (2016), bimbingan karier adalah proses membantu konseli dalam hal memahami dirinya, memahami lingkungannya khususnya lingkungan berupa dunia kerja, menentukan pilihan kerja dan akhirnya membantunya menyusun rencana untuk mewujudkan keputusan yang diambilnya.

Menurut Hana (1978), bimbingan karier adalah suatu proses per bantuan terhadap individu untuk menumbuhkan dan menerima gambaran tentang dirinya secara keseluruhan dan cocok baginya dalam lapangan pekerjaan, di samping menolongnya untuk mengalami gambaran tersebut dalam alam nyata. 

Menurut Salahudin (2010), bimbingan karier adalah pelayanan bantuan untuk pegawai, baik secara perseorangan maupun kelompok agar pegawai mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam mengembangkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan bekerja, pengembangan karier, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku. 

Menurut Rahmad (2015), bimbingan karier adalah suatu proses membantu seseorang untuk mengerti dan menerima gambaran tentang diri pribadinya dan gambaran tentang dunia kerja di luar dirinya, mempertemukan gambaran diri tersebut dengan dunia kerja di luar dirinya itu untuk pada akhirnya dapat memilih bidang pekerjaan, memasukinya dan membina karier dalam bidang tersebut.

 

Pentingnya Bimbingan Karier dan Informasi Lapangan Kerja:

Bimbingan karir dan informasi lapangan kerja merupakan layanan penting bagi para lulusan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan (PTK) dalam menavigasi masa depan mereka. Layanan ini membantu mereka:

Memahami minat dan bakat mereka: Melalui tes bakat dan minat, serta konseling dengan pakar karir, para lulusan PTK dapat mengidentifikasi potensi dan passion mereka.

Mengetahui peluang karir yang tersedia: Informasi tentang berbagai jenis pekerjaan, prospek karir, dan kualifikasi yang dibutuhkan membantu mereka membuat pilihan karir yang tepat.

Mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan: Bimbingan karir dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan dan berkembang dalam karir mereka.

Mempersiapkan diri untuk proses lamaran kerja: Layanan ini membantu mereka dalam membuat CV yang menarik, berlatih wawancara kerja, dan memahami etiket profesional.

Jenis Layanan Bimbingan Karier dan Informasi Lapangan Kerja:

·         Konseling karir individual: Layanan ini membantu para lulusan PTK secara individual untuk memahami minat, bakat, dan potensi mereka, serta untuk mengembangkan rencana karir yang sesuai.

·         Seminar dan workshop: Berbagai seminar dan workshop dapat diadakan untuk memberikan informasi tentang berbagai peluang karir, keterampilan yang dibutuhkan, dan tips untuk proses lamaran kerja.

·         Informasi online: Platform online dan portal informasi karir dapat menyediakan akses mudah ke berbagai informasi tentang peluang karir, pendidikan, dan pelatihan.

·         Magang dan Job Fair: Magang dan Job Fair memberikan kesempatan kepada para lulusan PTK untuk mendapatkan pengalaman kerja dan bertemu dengan calon pemberi kerja.

 

Peran Penting Institusi PTK dan Pemerintah:

·         Institusi PTK dan pemerintah memiliki peran penting dalam menyediakan layanan bimbingan karir dan informasi lapangan kerja yang berkualitas bagi para lulusan PTK. Institusi PTK dapat:

·         Menyediakan staf yang terlatih dan berpengalaman dalam bimbingan karir.

·         Mengembangkan program bimbingan karir yang komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan para lulusan PTK.

·         Membangun kerjasama dengan industri dan organisasi terkait untuk memberikan informasi lapangan kerja yang akurat dan terkini.

Pemerintah dapat:

·         Mengembangkan kebijakan dan program yang mendukung layanan bimbingan karir dan informasi lapangan kerja.

·         Memberikan dana untuk pengembangan dan pelaksanaan program bimbingan karir.

·         Membangun platform online dan portal informasi karir yang mudah diakses oleh para lulusan PTK.

4. Konsep dan Implementasi Public Private Partnership (PPP) pada Pendidikan Vokasi:

Konsep dan Implementasi Public Private Partnership (PPP) pada Pendidikan Vokasi:

Konsep PPP:

Public Private Partnership (PPP) adalah kerjasama antara pemerintah dan sektor swasta dalam penyediaan dan pengelolaan layanan publik, termasuk pendidikan vokasi. Kerjasama ini bertujuan untuk:

·         Meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.

·         Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan pendidikan vokasi.

·         Memperluas akses ke pendidikan vokasi.

 

Public Private Partnership (“PPP”) atau Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (“KPBU”) adalah skema penyediaan infrastruktur publik yang melibatkan peran pihak swasta. PPP pertama kali diatur dalam Peraturan Presiden 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS). Peraturan tersebut diperbaharui dengan disahkannya Perpres No. 38 Tahun 2015 tentang KPBU (“Perpres 38/2015”).
(sumber: https://smartlegal.id/smarticle/layanan/2019/01/07/apa-itu-skema-public-private-partnership/ )

Istilah PPP pertama kali muncul di Amerika ketika terdapat sebuah program pengembangan pendidikan dan pengadaan utilitas dengan skema pendanaan pemerintah dan swasta pada tahun 1950. Kemudian skema ini dikembangkan untuk program-program penataan kota pada tahun 1960. Adapun yang menjadi definisi dari PPP menurut Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2015 adalah kerjasama antara pemerintah dan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur untuk kepentingan umum dengan mengacu pada spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Menteri/Kepala Lembaga/ Kepala Daerah/ BUMN/ BUMD yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya Badan Usaha dengan memperhatikan pembagian risiko di antara para pihak.(sumber : https://www.handalselaras.com/public-private-partnership-kpbu/ )

Model Implementasi PPP:

Terdapat berbagai model implementasi PPP dalam pendidikan vokasi, antara lain:

·         Pembiayaan: Sektor swasta dapat membantu pemerintah dalam membiayai pembangunan dan pengelolaan infrastruktur pendidikan vokasi.

·         Kurikulum: Sektor swasta dapat terlibat dalam pengembangan kurikulum pendidikan vokasi agar sesuai dengan kebutuhan industri.

·         Praktek Kerja Industri: Sektor swasta dapat menyediakan tempat praktek kerja bagi siswa pendidikan vokasi.

·         Pengajar: Sektor swasta dapat membantu pemerintah dalam menyediakan pengajar yang memiliki keahlian dan pengalaman di industri.

Manfaat PPP:

·         Meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.

·         Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan pendidikan vokasi.

·         Memperluas akses ke pendidikan vokasi.

·         Meningkatkan peluang kerja bagi lulusan pendidikan vokasi.

Tantangan PPP:

·         Ketidakseimbangan kekuatan: Ada risiko bahwa sektor swasta akan memiliki pengaruh yang terlalu besar dalam pendidikan vokasi.

·         Kurangnya transparansi dan akuntabilitas: Penting untuk memastikan bahwa kerjasama PPP transparan dan akuntabel kepada publik.

·         Keberlanjutan: Penting untuk memastikan bahwa kerjasama PPP dapat berkelanjutan dalam jangka panjang.

Contoh Implementasi PPP di Indonesia:

·         SMK-SMTI (Sekolah Menengah Kejuruan - Sekolah Menengah Teknologi Industri): Bekerjasama dengan industri dalam pengembangan kurikulum dan penyediaan tempat praktek kerja.

·         Program "Link and Match": Menghubungkan SMK dengan industri untuk meningkatkan relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.

 

5. Integrasi TIK Dalam Pendidikan Vokasi Inggris:

Pentingnya Integrasi TIK:

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memainkan peran penting dalam dunia kerja saat ini. Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan TIK dalam pendidikan vokasi untuk memastikan bahwa lulusan memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh industri.

 

Manfaat Integrasi TIK:

·         Meningkatkan relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri: Industri saat ini menggunakan TIK secara luas, dan lulusan yang memiliki keterampilan TIK akan lebih siap untuk bekerja di industri.

·         Meningkatkan kualitas pembelajaran: TIK dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif.

·         Meningkatkan akses ke pendidikan vokasi: TIK dapat digunakan untuk menyediakan pendidikan vokasi bagi orang-orang yang tidak dapat mengakses pendidikan tradisional.

·         Mengembangkan keterampilan abad ke-21: TIK dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti pemecahan masalah, kerja tim, dan komunikasi.

Cara Integrasi TIK:

·         Menggunakan perangkat lunak simulasi: Perangkat lunak simulasi dapat digunakan untuk memberikan siswa pengalaman belajar yang realistis.

·         Pembelajaran online: Pembelajaran online dapat digunakan untuk memberikan siswa akses ke pendidikan vokasi yang fleksibel dan mudah diakses.

·         Penggunaan media sosial: Media sosial dapat digunakan untuk menghubungkan siswa dengan industri dan untuk menyediakan informasi tentang peluang karir.

·         Penggunaan teknologi mobile: Teknologi mobile dapat digunakan untuk memberikan siswa akses ke pembelajaran kapan saja dan di mana saja.

Contoh Integrasi TIK di Inggris:

·         Virtual reality (VR) dan augmented reality (AR): Teknologi VR dan AR digunakan untuk memberikan siswa pengalaman belajar yang realistis.

·         Pembelajaran online: Banyak institusi pendidikan vokasi di Inggris menawarkan program pembelajaran online.

·         Penggunaan media sosial: Banyak institusi pendidikan vokasi di Inggris menggunakan media sosial untuk terhubung dengan siswa dan industri.

Integrasi TIK dalam Pembelajaran

  Bandingkan dua kalimat berikut! ”Learning to Use ICTs vs Using ICTs to Learn”. Secara sederhana, mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran sama maknanya dengan menggunakan TIK untuk belajar (using ICTs to learn) sebagai lawan dari belajar menggunakan TIK (learning to use ICTs). Belajar menggunakan TIK mengandung makna bahwa TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran.

Sebenarnya, UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK dalam pembelajaran ke dalam empat tahap sebagai berikut: 1) Tahap emerging, baru menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya, 2) Tahap applying, satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (mata pelajaran), 3) Tahap integrating, TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran), 4) Tahap transforming merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan. TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk administrasi (administrational purpose).

Apa yang terjadi dalam praktek pembelajaran di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, TIK masih dijadikan sebagai obyek atau mata pelajaran. Sebagian besar, TIK masih dijadikan sebagai obyek belajar atau mata pelajaran di sekolah-sekolah. Bahkan di tingkat perpendidikan tinggi atau akademi, banyak dibuka program studi yang berkaitan dengan TIK, seperti teknik informatika, manajemen informatika, teknik komputer, dan lain-lain.

Fryer (2001) mengatakan bahwa penggunaan TIK dalam pembelajaran bertujuan untuk melatih keterampilan menggunakan TIK dengan cara mengintegrasikannya ke dalam aktifitas pembelajaran, bukan mengajarkan TIK tersebut sebagai mata pelajaran yang terpisah. Jadi, sudah saatnya TIK diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran dan bukan hanya sekedar menjadi mata pelajaran yang terpisah.

(sumber : https://fatkhan.web.id/integrasi-tik-dalam-pembelajaran/ )

 

6. Green-TVET dan High-Order Thinking (HOT) Skills:

Berdasarkan European Training Foundation (2022) yang dikutip dari UNESCO TVET, Green Skills mencakup pengetahuan teknis dan keterampilan yang memungkinkan profesional untuk menggunakan teknologi dan proses ramah lingkungan dengan efektif. Contohnya penggunaan teknologi atau proses yang efisien sumber daya, mengurangi limbah, dan meminimalkan dampak kerusakan lingkungan dari aksi manusia. Selain itu, green skills juga mencakup keterampilan lintas sektoral, pengetahuan, nilai, dan sikap yang membantu dalam mengambil keputusan yang pro-lingkungan.

Sementara itu, menurut Peta Okupasi Nasional Green Jobs KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), Green Jobs dapat didefinisikan sebagai pekerjaan yang berkontribusi pada pelestarian atau pemulihan lingkungan, dan mempromosikan pekerjaan yang layak melalui tugas khusus, keterampilan khusus, proses ramah lingkungan, dan/atau menghasilkan produk/jasa ramah lingkungan. Berdasarkan Lembar Fakta tentang Pekerjaan yang Layak dan Ramah Lingkungan (Green Jobs) di Indonesia yang diterbitkan oleh ILO (International Labour Organization), bidang-bidang pekerjaan yang berperan dalam menangani isu lingkungan seperti perubahan iklim meliputi :

·         Memulihkan stok dan konstruksi hijau yang ada 

·         Pengolahan limbah dan daur ulang 

·         Transportasi umum 

·         Pertanian dan produksi pangan yang berkelanjutan 

·         Kehutanan yang berkelanjutan (bersertifikasi) dan mencegah deforestasi 

·         Pengelolaan manufaktur dan rantai pasokan 

·         Suplai dan efisiensi energi 

·         Pelestarian biodiversitas dan ekosistem 

Green skills adalah salah satu keterampilan abad 21 yang dibutuhkan untuk menyesuaikan produk, layanan dan proses agar ramah lingkungan. Pengembangan green skills perlu dilakukan melalui jalur pendidikan sebagai salah satu keterampilan kecakapan hidup (life skills/transferable skills). Hal ini untuk mendukung masyarakat yang efisien dan berkelanjutan. Pada akhir tahun 2009, the Department for Business, Innovation and Skills (BIS) mempublikasikan Sustainable Development Action Plan, sebuah rencana kebijakan yang mencakup berbagai inisiatif untuk merespon perubahan lingkungan dengan tujuan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Developmet or ESD). Pada tahun 2011 pemerintah Inggris mengeluarkan the Skills for Green Economy, sebuah laporan pengembangan keterampilan terkait rekomendasi dari Skills for Sustainable Growth(sumber : https://journal.unesa.ac.id/index.php/JVTE/article/view/10610/4448 )

Green-TVET adalah pendidikan dan pelatihan kejuruan yang berfokus pada keberlanjutan dan ramah lingkungan.

 

 

Green-TVET: Pendidikan Vokasi Berwawasan Lingkungan

·         Konsep: Green-TVET (Green Technical and Vocational Education and Training) adalah pendekatan pendidikan dan pelatihan kejuruan yang berfokus pada keterampilan terkait keberlanjutan dan ramah lingkungan.

·         Tujuan: Membekali lulusan PTK dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja di sektor "hijau" yang sedang berkembang pesat, seperti energi terbarukan, pengelolaan lingkungan, dan teknologi bersih.

·         Manfaat:

1.      Meningkatkan peluang kerja lulusan PTK di sektor yang sedang bertumbuh.

2.      Mendorong inovasi dan pengembangan teknologi ramah lingkungan.

3.      Mempersiapkan lulusan PTK untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

Contoh Keterampilan Green-TVET:

·         Teknik instalasi dan perawatan panel surya.

·         Manajemen dan konservasi sumber daya air.

·         Teknologi daur ulang dan pengelolaan limbah.

·         Sistem bangunan berkelanjutan (green building).

·         Pertanian organik dan agrikultur berkelanjutan.

Green-TVET adalah investasi penting untuk masa depan. Dengan membekali lulusan PTK dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja di sektor hijau, Green-TVET dapat membantu menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Sumber:: UNESCO-UNEVOC Green TVET Toolkit: https://unevoc.unesco.org/home/Workshop+on+Greening+TVET,+job+roles,+and+c

 

HOTS merupakan suatu proses berpikir peserta didik dalam level kognitif yang lebih tinggi yaitu kemampuan pemecahan masalah, kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis, kemampuan berargumen, dan kemampuan mengambil keputusan

HOT skills adalah keterampilan berpikir kritis dan kreatif yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah kompleks.

Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang dapat mendorong seseorang untuk berpikir secara luas dan mendalam tentang suatu masalah. Untuk bisa menggali kemampuan berpikir analisis tinggi seperti ini, peserta didik didorong untuk bisa menyelesaikan jenis soal dengan kategori HOTS. (sumber: https://campus.quipper.com/kampuspedia/higher-order-thingking-skills-hots )

(1) Dari Perspektif Albert Einstein:

“What is the speed of sound?”. He (Einstein) said: “I don’t know. I don’t burden my memory with such facts that I can easily find in any textbook. It is not so very important for a person to learn facts. For that he does not really need a college. He can learn them from books.”( Philipp Frank. (1947). Einstein: His Life and Times. Canada: Ryerson Press. Halaman 185.)

PTK perlu mempersiapkan lulusan mereka untuk masa depan dengan menyediakan pendidikan dan pelatihan dalam Green-TVET dan HOT skills.

Kesimpulan:

Studi komparasi PTK di Indonesia dan luar negeri dapat membantu meningkatkan kualitas dan relevansi PTK di Indonesia. Dengan mempelajari praktik terbaik dari negara lain, Indonesia dapat mengembangkan sistem PTK yang lebih efektif dan efisien yang dapat memenuhi kebutuhan industri dan membantu lulusan PTK mendapatkan pekerjaan yang layak.

 

 

Referensi :

CEDEFOP: Transferable skills: A systematic review of the literature (2016): https://www.cedefop.europa.eu/en/publications-and-resources/publications/3074

National Careers Service: Careers advice and information (2023): https://www.gov.uk/find-a-job

Skills Development Scotland: My World of Work (2023): https://www.myworldofwork.co.uk/

Careers Wales: Careers Wales (2023): https://careerswales.gov.wales/

P21 Partnership Framework for 21st Century Learning: P21 Resources (2023): https://www.battelleforkids.org/insights/p21-resources/

Sumber: A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives” karya Anderson & Krathwohl (2001).https://drive.google.com/file/d/1lCbyhL39K0wBmoaeUcVq-7gi6vW7Cqd0/view?usp=sharing

Comments

Popular posts from this blog